Kamis, 11 Agustus 2011

Indra Loka Gamana Parva (book 3 The Mahabharata: Vana Parva)


INDRA LOKA GAMANA PARVA

          Setelah mendapatkan anugerah bahwa pintu surga terbuka untuk Arjuna, maka sekarang tibalah saatnya Putra Pandu itu naik ke alam Siddha Loka yang sangat cemerlang. Ia disambut oleh banyak resi-resi suci yang lainnya dan memiliki badan dewata yang serba bersinar indah. Ada banyak vidyadara yang mengenakan pakaian indah dan minyak wangi yang menyejukkan hati menyambut Arjuna.
          Ia menaiki sebuah kereta terbang ajaib yang bernama Vimana, dan dengan saisnya yang sangat cakap. Di taburi banyak kembang yang harum, Arjuna  masuk ke gerbang kota suci di surga yang bernama Amaravati, tempat dimana Bhatara Indra dan Dewi Sachi memerintah dengan gagahnya.
          Beliau tampak oleh Arjuna duduk di singgasana indah yang terbuat dari ribuan permata murni. Diapit oleh Bhagavan Vrhaspati dan di sisi kiri kanan-Nya, ada banyak Dewa perkasa yang semuanya indah cemerlang bagaikan matahari layaknya. Badan mereka bersinar dan sangat mempesona, menawan dan menarik hati. Bahkan seseorang dapat langsung jatuh cinta ketika melihat salah satu Dewa yang duduk mendampingi Bhatara Indra.
          Arjuna, melihat pemandangan surgawi itu dengan takjub bukan kepalang. Tak henti-hentinya ia bergumam penuh kekaguman dalam hatinya. Keheranannya kemudian dipecah oleh sabda dari Bhatara Indra,
          “ Arjuna… Selamat datang di kota suci Amaravati. Seluruh penghuni surga menerimamu dengan baik, selama di sini, maka pelajarilah apapun yang berguna kelak untukmu anakku.”
          Setelah menyabdakan hal demikian, Bhatara Indra melihat penyanyi surgawi terkemuka bernama Citrasena yang merupakan masternya musik dan tari. Seolah mendapatkan perintah, maka Citrasena  kemudian menjura kehadapan Bhatara Indra.
          “Mohon ampun Yang Mulia, perintahkan apa yang harus hamba lakukan untuk menyenangkan hatimu”.
          “Ajari Arjuna menari dan juga menyanyi serta musik yang engkau kuasai. Jadikan ia seniman yang ulung”.
          “Baiklah Yang Mulia, perintah yang Mulia akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya…”.
          Setelah menjura demikian, Arjuna kemudian di tuntun menuju sebuah ruangan indah khusus untuk menari dan menyanyi tempat dimana Citrasena sehari-harinya melakukan aktifitas seni. Arjuna tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya itu, bahkan keindahan dunia belum tentu dapat menyamai indahnya ruangan Citrasena.
          Arjuna menari di sana sesuai dengan petunjuk Citrasena. Ia sangat pandai dan cakap, sehingga apapun yang diinstruksikan oleh sang guru, dapat diserap dengan baik dan cepat. Gerakan-gerakan tarian yang indah, patah-patah, lemah gemulai, keras, lunak, lamban dan cepat. Hentakan kaki dengan berbagai macam hitungan, dan juga gerakan tangan dengan berbagai macam posisi, Arjuna terima dengan sangat cepat.
          Ia memiliki sebuah kualifikasi seni yang mumpuni, sehingga Citrasena juga sangat kagum akan kepiawaian Arjuna menyerap ilmu darinya. Lompatan, jalan dengan berbagai maca gaya, kemudian lirikan mata dan juga berbagai macam roman muka kala menari, diserap dengan sempurna oleh Putra Kunti. Arjuna menjadi sangat terkenal dalam sekejap di lingkungan Vidyadara tersebut.
          Hasilnya adalah salah seorang vidyadari yang bernama Urvasi menjadi tertarik kepada Arjuna. Dewi Urvasi juga merupakan penari surga yang sangat sempurna, seluruh penghuni Siddha Loka hampir semuanya mengenal sang dewi karena tariannya yang indah dan bentuk tubuhnya yang menawan itu. Oleh sebab itu, tak terlalu mengherankan jika sekarang Dewi Urvasi ikut dalam latihan yang dilakukan oleh Arjuna ketika Citrasena mengajar.
          Sang dewi ikut menari mendampingi Arjuna yang memiliki wajah setampan vidyadara dan gerakan tarian yang lincah. Karena seringnya bertemu, maka timbullah bibit cinta di hati Dewi Urvasi, dan sang dewi sangat terkesima melihat wajah tampan Arjuna. Karena itu, sang dewi sedikit demi sedikit mendekati Arjuna dengan daya pikatnya sebagai vidyadari.
          Tetapi meskipun demikian, Arjuna tetap melihat sang dewi sebagai seorang ibu, bukan sebagai seorang gadis. Karena itu, Arjuna berusaha memberikan penghormatannya terhadap sang dewi layaknya menghormati Ibunya sendiri. Dalam peradaban Veda, maka seseorang hendaknya melihat kakak wanitanya, istri saudara, dan wanita yang lebih tua, atau wanita yang tidak dikenal dan juga guru wanita sebagai seorang ibu.
          Arjuna mematuhi seluruh aturan hidup yang ditetapkan oleh Veda, oleh sebab itu, betapapun Urvasi mendekati Arjuna, maka Putra Kunti itu tetap melihat sang dewi sebagai ibu yang harus di muliakan. Suatu ketika, Arjuna tengah duduk sendiri di ruang musik, ini disaksikan oleh Urvasi, maka sang dewi mendekati Arjuna kemudian berkata:
          “Arjuna, sedang apakah dirimu di sini, mengapa pria tampan sepertimu duduk seorang diri?”
          “Oh…maafkan hamba ibu. Hamba tak menyadari kehadiran ibu di sini, pikiran hamba tengah kalut memikirkan saudara hamba yang ada di dunia, terutama kakak Yudhisthira”.
          “Arjuna, jangan terlalu sungkan demikian, buatlah suasana sekarang menjadi sedikit indah dengan kalimat manismu. Tataplah aku Arjuna, lihatlah aku, ketampananmu itu akan mebuat kita sangat serasi…”.
          “Maafkan hamba ibu, maksud ibu apa?”
          “jangan pura-pura tidak mengerti Arjuna”.
          “Beribu maaf ibu, sungguh hamba tidak mengerti tentang apa yang ibu katakana kepada hamba”.
          “Arjuna, Jika seorang gadis bertemu dengan seorang pria dalam keadaan yang memikat, maka apakah yang terjadi?”.
          “Tentu saja mereka akan jatuh cinta dan berusaha untuk mengutarakan isi hati mereka, ibu”.
          “Demikian juga dengan aku sekarang. Ketampananmu membuat aku bingung, tak satupun vidyadara yang dapat membuat aku mabuk kepayang seperti ini sebelumnya, maka Arjuna, janganlah engkau mengecewakan aku”.
          “maksud ibu..?”.
          “Ayo dekaplah aku Arjuna, mendekatkatlah dan peluk aku dengan membara layaknya sepasang kekasih”.
          Mendengar kalimat Dewi Urvasi, maka Arjuna kemudian mundur beberapa langkah dan mulai menghormat:
          “Maafakan hamba ibu. Sedari dulu hamba melihat engkau seperti Ibu Kunti. Lalu bagaimana mungkin hamba dapat melihat anda dengan tatapan yang berbeda? Itu tidak akan terjadi, dan alangkah berdosanya hamba jika berani melihat ibu layaknya seorang gadis”.
          Urvasi menjadi sangat kecewa mendengarkan kalimat Arjuna, tetapi meskipun demikian ia tak mau menyerah. Ia terus mendesak Putra Kunti itu agar mau menerimanya sebagai seorang kekasih.
          “Arjuna, ingatlah ini, aku adalah vidyadari, apapun yang kau pinta dariku akan aku berikan, ayolah datang padaku dan dekap aku”.
          “Ibu, jangan merendahkan derajatmu itu dengan berprilaku demikian. Sadarlah wahai ibu, apalagi kedudukanmu adalah seorang mahluk surgawi…”
          “Cukup Arjuna..! jangan menasehati aku dengan tuturmu yang runcing itu. Dengan menolak aku, kau telah menghina aku, dan ini sudah sangat cukup meyakitkan bagiku. Sekarang aku akan mengutuk dirimu, semoga kelaki-lakianmu tidak akan dapat berguna dengan baik, kau akan kehilangan sifat jantanmu dan menjadi seorang banci karena telah berani menolak aku.!!!”.
          Urvasi yang dikuasai nafsu dan amarah menjadi membabi buta dan mengutuk Arjuna. Kekacauan telah mekar dalam dirinya, dan benarlah kata orang terpelajar bahwa nafsu itu seperti kuda liar yang menyeret mahluk bahkan orang yang besar sekalipun akan tunduk dengan hawa nafsunya. Partha menjadi bingung dengan semua ini, tak berdaya dan tak tahu apa yang harus diperbuat.
          Dengan sedih kemudian ia menghadap Paduka Bhatara Indra, mengadukan nasib malang yang tengah menimpa dirinya itu. Ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga kutukan Dewi Urvasi, dan Bhatara Indra menjadi sangat prihatin dengan kejadian ini.
          Seketika itu juga, karena Arjuna memegang teguh prinsip Veda, maka paduka Bhatara Indra memberikan Arjuna keringanan kutukan. Kutukan itu tetap terjadi, namun hanya satu tahun lamanya, itupun ketika Arjuna berada di bumi. Untuk menghilangkan sedih hatinya Arjuna, maka Paduka Bhatara Indra memerintahkan Arjuna untuk memuja Dewata yang lain bersemayam di Surga Loka itu.
          Dengan demikian berbagai macam senjata sakti dan berkat akan ia terima dan ini sangat berguna kelak. Sang Hyang Indra sendiri menganugerahinya sebuah senjata Vajra (petir), kemudian Bhatara Varuna menganugerahinya Varunaastra sebuah senjata Illahi yang mampu mengeluarkan hujan.
          Sang Hyang Duhmaketu menganugerahinya sebuah senjata bernama Agniastra yang dapat membakar musuh dalam sekejap. Bhatara Asvini menganugerahinya sebuah mantra untuk menyembuhkan luka akibat terkena senjata musuh. Sang Hyang Soma menganugerahinya anak panah dengan mata panah berbentuk bulan sabit. Kemudian kotak anak panah yang tak pernah habis untuk digunakan.
          Sekarang Arjuna siap berdiri sebagai Dhananjaya, pemanah perkasa dan memiliki banyak senjata sakti. Ia tak ubahnya bagaikan Bhargava parasurama yang datang dan ditakuti oleh seluruh wangsa ksatria di dunia. Arjuna juga dianeugerahi kereta perang oleh Bhatara Indra lengkap dengan kuda-kudanya yang kuat dan lincah.
          Karena seluruh berkah Dewata sudah didapatkan Arjuna, maka ia memohon diri untuk kembali ke bumi dan menemui ssaudaranya. Paduka Bhatara Indra memberikan ijin dan dengan segera Arjuna menaiki sebuah Vimana yang terbang melesat menuju Bumi.
          Kendaraan itu adalah kendaraan dengan kecepatan cahaya yang sangat luar biasa, dan menembus dimensi yang lain dengan segera sebab kereta itu adalah kendaraan Illahi. Arjuna sendiri tak merasakan apapun setelah menaiki Vimana itu, tiba-tiba saja ia sudah ada di tepian hutan Dvaitawana tempat dimana saudaranya yang lain berada.
          Setibanya di sana, Vimana itu menghilang kembali ke surga. Gudakesha disambut oleh Vrkaudara dan Nakula-sahadewa serta Dewi Draupadi dengan sangat hangat. Mereka kemudian membuat upacara penyambutan kepada Arjuna dan bercengkrama tentang pengalamannya di Siddha Loka. Mereka tampak bahagia, namun kakak sulungnya, Yudhisthira tidak terlihat. Sebab maharaja itu tengah melakukan upacara penebusan dosa, ia sedang bertitakat dalam hening yang dalam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar