Kamis, 11 Agustus 2011

Indra Loka Gamana Parva (book 3 The Mahabharata: Vana Parva)


INDRA LOKA GAMANA PARVA

          Setelah mendapatkan anugerah bahwa pintu surga terbuka untuk Arjuna, maka sekarang tibalah saatnya Putra Pandu itu naik ke alam Siddha Loka yang sangat cemerlang. Ia disambut oleh banyak resi-resi suci yang lainnya dan memiliki badan dewata yang serba bersinar indah. Ada banyak vidyadara yang mengenakan pakaian indah dan minyak wangi yang menyejukkan hati menyambut Arjuna.
          Ia menaiki sebuah kereta terbang ajaib yang bernama Vimana, dan dengan saisnya yang sangat cakap. Di taburi banyak kembang yang harum, Arjuna  masuk ke gerbang kota suci di surga yang bernama Amaravati, tempat dimana Bhatara Indra dan Dewi Sachi memerintah dengan gagahnya.
          Beliau tampak oleh Arjuna duduk di singgasana indah yang terbuat dari ribuan permata murni. Diapit oleh Bhagavan Vrhaspati dan di sisi kiri kanan-Nya, ada banyak Dewa perkasa yang semuanya indah cemerlang bagaikan matahari layaknya. Badan mereka bersinar dan sangat mempesona, menawan dan menarik hati. Bahkan seseorang dapat langsung jatuh cinta ketika melihat salah satu Dewa yang duduk mendampingi Bhatara Indra.
          Arjuna, melihat pemandangan surgawi itu dengan takjub bukan kepalang. Tak henti-hentinya ia bergumam penuh kekaguman dalam hatinya. Keheranannya kemudian dipecah oleh sabda dari Bhatara Indra,
          “ Arjuna… Selamat datang di kota suci Amaravati. Seluruh penghuni surga menerimamu dengan baik, selama di sini, maka pelajarilah apapun yang berguna kelak untukmu anakku.”
          Setelah menyabdakan hal demikian, Bhatara Indra melihat penyanyi surgawi terkemuka bernama Citrasena yang merupakan masternya musik dan tari. Seolah mendapatkan perintah, maka Citrasena  kemudian menjura kehadapan Bhatara Indra.
          “Mohon ampun Yang Mulia, perintahkan apa yang harus hamba lakukan untuk menyenangkan hatimu”.
          “Ajari Arjuna menari dan juga menyanyi serta musik yang engkau kuasai. Jadikan ia seniman yang ulung”.
          “Baiklah Yang Mulia, perintah yang Mulia akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya…”.
          Setelah menjura demikian, Arjuna kemudian di tuntun menuju sebuah ruangan indah khusus untuk menari dan menyanyi tempat dimana Citrasena sehari-harinya melakukan aktifitas seni. Arjuna tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya itu, bahkan keindahan dunia belum tentu dapat menyamai indahnya ruangan Citrasena.
          Arjuna menari di sana sesuai dengan petunjuk Citrasena. Ia sangat pandai dan cakap, sehingga apapun yang diinstruksikan oleh sang guru, dapat diserap dengan baik dan cepat. Gerakan-gerakan tarian yang indah, patah-patah, lemah gemulai, keras, lunak, lamban dan cepat. Hentakan kaki dengan berbagai macam hitungan, dan juga gerakan tangan dengan berbagai macam posisi, Arjuna terima dengan sangat cepat.
          Ia memiliki sebuah kualifikasi seni yang mumpuni, sehingga Citrasena juga sangat kagum akan kepiawaian Arjuna menyerap ilmu darinya. Lompatan, jalan dengan berbagai maca gaya, kemudian lirikan mata dan juga berbagai macam roman muka kala menari, diserap dengan sempurna oleh Putra Kunti. Arjuna menjadi sangat terkenal dalam sekejap di lingkungan Vidyadara tersebut.
          Hasilnya adalah salah seorang vidyadari yang bernama Urvasi menjadi tertarik kepada Arjuna. Dewi Urvasi juga merupakan penari surga yang sangat sempurna, seluruh penghuni Siddha Loka hampir semuanya mengenal sang dewi karena tariannya yang indah dan bentuk tubuhnya yang menawan itu. Oleh sebab itu, tak terlalu mengherankan jika sekarang Dewi Urvasi ikut dalam latihan yang dilakukan oleh Arjuna ketika Citrasena mengajar.
          Sang dewi ikut menari mendampingi Arjuna yang memiliki wajah setampan vidyadara dan gerakan tarian yang lincah. Karena seringnya bertemu, maka timbullah bibit cinta di hati Dewi Urvasi, dan sang dewi sangat terkesima melihat wajah tampan Arjuna. Karena itu, sang dewi sedikit demi sedikit mendekati Arjuna dengan daya pikatnya sebagai vidyadari.
          Tetapi meskipun demikian, Arjuna tetap melihat sang dewi sebagai seorang ibu, bukan sebagai seorang gadis. Karena itu, Arjuna berusaha memberikan penghormatannya terhadap sang dewi layaknya menghormati Ibunya sendiri. Dalam peradaban Veda, maka seseorang hendaknya melihat kakak wanitanya, istri saudara, dan wanita yang lebih tua, atau wanita yang tidak dikenal dan juga guru wanita sebagai seorang ibu.
          Arjuna mematuhi seluruh aturan hidup yang ditetapkan oleh Veda, oleh sebab itu, betapapun Urvasi mendekati Arjuna, maka Putra Kunti itu tetap melihat sang dewi sebagai ibu yang harus di muliakan. Suatu ketika, Arjuna tengah duduk sendiri di ruang musik, ini disaksikan oleh Urvasi, maka sang dewi mendekati Arjuna kemudian berkata:
          “Arjuna, sedang apakah dirimu di sini, mengapa pria tampan sepertimu duduk seorang diri?”
          “Oh…maafkan hamba ibu. Hamba tak menyadari kehadiran ibu di sini, pikiran hamba tengah kalut memikirkan saudara hamba yang ada di dunia, terutama kakak Yudhisthira”.
          “Arjuna, jangan terlalu sungkan demikian, buatlah suasana sekarang menjadi sedikit indah dengan kalimat manismu. Tataplah aku Arjuna, lihatlah aku, ketampananmu itu akan mebuat kita sangat serasi…”.
          “Maafkan hamba ibu, maksud ibu apa?”
          “jangan pura-pura tidak mengerti Arjuna”.
          “Beribu maaf ibu, sungguh hamba tidak mengerti tentang apa yang ibu katakana kepada hamba”.
          “Arjuna, Jika seorang gadis bertemu dengan seorang pria dalam keadaan yang memikat, maka apakah yang terjadi?”.
          “Tentu saja mereka akan jatuh cinta dan berusaha untuk mengutarakan isi hati mereka, ibu”.
          “Demikian juga dengan aku sekarang. Ketampananmu membuat aku bingung, tak satupun vidyadara yang dapat membuat aku mabuk kepayang seperti ini sebelumnya, maka Arjuna, janganlah engkau mengecewakan aku”.
          “maksud ibu..?”.
          “Ayo dekaplah aku Arjuna, mendekatkatlah dan peluk aku dengan membara layaknya sepasang kekasih”.
          Mendengar kalimat Dewi Urvasi, maka Arjuna kemudian mundur beberapa langkah dan mulai menghormat:
          “Maafakan hamba ibu. Sedari dulu hamba melihat engkau seperti Ibu Kunti. Lalu bagaimana mungkin hamba dapat melihat anda dengan tatapan yang berbeda? Itu tidak akan terjadi, dan alangkah berdosanya hamba jika berani melihat ibu layaknya seorang gadis”.
          Urvasi menjadi sangat kecewa mendengarkan kalimat Arjuna, tetapi meskipun demikian ia tak mau menyerah. Ia terus mendesak Putra Kunti itu agar mau menerimanya sebagai seorang kekasih.
          “Arjuna, ingatlah ini, aku adalah vidyadari, apapun yang kau pinta dariku akan aku berikan, ayolah datang padaku dan dekap aku”.
          “Ibu, jangan merendahkan derajatmu itu dengan berprilaku demikian. Sadarlah wahai ibu, apalagi kedudukanmu adalah seorang mahluk surgawi…”
          “Cukup Arjuna..! jangan menasehati aku dengan tuturmu yang runcing itu. Dengan menolak aku, kau telah menghina aku, dan ini sudah sangat cukup meyakitkan bagiku. Sekarang aku akan mengutuk dirimu, semoga kelaki-lakianmu tidak akan dapat berguna dengan baik, kau akan kehilangan sifat jantanmu dan menjadi seorang banci karena telah berani menolak aku.!!!”.
          Urvasi yang dikuasai nafsu dan amarah menjadi membabi buta dan mengutuk Arjuna. Kekacauan telah mekar dalam dirinya, dan benarlah kata orang terpelajar bahwa nafsu itu seperti kuda liar yang menyeret mahluk bahkan orang yang besar sekalipun akan tunduk dengan hawa nafsunya. Partha menjadi bingung dengan semua ini, tak berdaya dan tak tahu apa yang harus diperbuat.
          Dengan sedih kemudian ia menghadap Paduka Bhatara Indra, mengadukan nasib malang yang tengah menimpa dirinya itu. Ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga kutukan Dewi Urvasi, dan Bhatara Indra menjadi sangat prihatin dengan kejadian ini.
          Seketika itu juga, karena Arjuna memegang teguh prinsip Veda, maka paduka Bhatara Indra memberikan Arjuna keringanan kutukan. Kutukan itu tetap terjadi, namun hanya satu tahun lamanya, itupun ketika Arjuna berada di bumi. Untuk menghilangkan sedih hatinya Arjuna, maka Paduka Bhatara Indra memerintahkan Arjuna untuk memuja Dewata yang lain bersemayam di Surga Loka itu.
          Dengan demikian berbagai macam senjata sakti dan berkat akan ia terima dan ini sangat berguna kelak. Sang Hyang Indra sendiri menganugerahinya sebuah senjata Vajra (petir), kemudian Bhatara Varuna menganugerahinya Varunaastra sebuah senjata Illahi yang mampu mengeluarkan hujan.
          Sang Hyang Duhmaketu menganugerahinya sebuah senjata bernama Agniastra yang dapat membakar musuh dalam sekejap. Bhatara Asvini menganugerahinya sebuah mantra untuk menyembuhkan luka akibat terkena senjata musuh. Sang Hyang Soma menganugerahinya anak panah dengan mata panah berbentuk bulan sabit. Kemudian kotak anak panah yang tak pernah habis untuk digunakan.
          Sekarang Arjuna siap berdiri sebagai Dhananjaya, pemanah perkasa dan memiliki banyak senjata sakti. Ia tak ubahnya bagaikan Bhargava parasurama yang datang dan ditakuti oleh seluruh wangsa ksatria di dunia. Arjuna juga dianeugerahi kereta perang oleh Bhatara Indra lengkap dengan kuda-kudanya yang kuat dan lincah.
          Karena seluruh berkah Dewata sudah didapatkan Arjuna, maka ia memohon diri untuk kembali ke bumi dan menemui ssaudaranya. Paduka Bhatara Indra memberikan ijin dan dengan segera Arjuna menaiki sebuah Vimana yang terbang melesat menuju Bumi.
          Kendaraan itu adalah kendaraan dengan kecepatan cahaya yang sangat luar biasa, dan menembus dimensi yang lain dengan segera sebab kereta itu adalah kendaraan Illahi. Arjuna sendiri tak merasakan apapun setelah menaiki Vimana itu, tiba-tiba saja ia sudah ada di tepian hutan Dvaitawana tempat dimana saudaranya yang lain berada.
          Setibanya di sana, Vimana itu menghilang kembali ke surga. Gudakesha disambut oleh Vrkaudara dan Nakula-sahadewa serta Dewi Draupadi dengan sangat hangat. Mereka kemudian membuat upacara penyambutan kepada Arjuna dan bercengkrama tentang pengalamannya di Siddha Loka. Mereka tampak bahagia, namun kakak sulungnya, Yudhisthira tidak terlihat. Sebab maharaja itu tengah melakukan upacara penebusan dosa, ia sedang bertitakat dalam hening yang dalam.




Selasa, 09 Agustus 2011

kuvaca-kundala Harana Parva (Book:3 Mahabharata)

KUVACA-KUNDALA HARANA PARVA

          Di wilayah Angadesa, seorang pemimpin tengah berbaring dalam keheningan malam. Ia menerawang jauh, berusaha untuk mencari masa lalunya yang penuh dengan misteri dan pertanyaan yang tidak ada habisnya. Dunia telah menghinanya sebagai putra kusir kereta dan ia dicampakkan karena latar belakang keluarganya yang tidak jelas.
          Dalam kemalangan besar itu, pangeran Duryodhana berbelas kasihan padanya dan mengangkat ia sebagai raja di Angadesa dalam sebuah adu kepiawaian di Hastinapura. Ialah Raja Anga Karna, dan ia dibesarkan oleh Adiratha dan istrinya Radha, kusir kereta Maharaja Dhrstarastra. Karena itu ia dikenal dengan Radheya.
          Karma berbaring di ranjang empuknya, tetapi matanya menatap langit-langit kamar dan pikirannya jauh melayang entah kemana. Hinaan demi hinaan yang dilontarkan kepadanya sudah cukup menempa kepribadiannya menjadi manusia yang tegar menghadapi masalah. Karena tak menentu dengan perasaannya, maka ia pun memutuskan untuk keluar dan menatap bintang di langit yang cerah.
          “Oh… Dewata, entah mengapa aku begitu menggebu dengan hadirnya peperangan dalam hidupku ini. ketika aku mencari jawabannya, maka aku menemukan bahwa disanalah akan hadir banyak pemanah perkasa, guru Drona dan Bhisma Putra Gangga. Mereka akan sadar dan mengetahui bahwa pemanah terhebat bukanlah Arjuna, tetapi putra kusir kereta yang hina ini”.
          Demikian ia bergumam dalam hati. Pandava adalah musuh bebuyutannya sejak dulu, dan pengaruh kuat Sakuni serta Duryodhana  membuat hatinya semakin membenci dan ingin mengalahkan Arjuna dalam sebuah pertempuran.
           Ia memandang langit di malam hari dan teringat akan pujaan hatinya, Bhatara Surya. Tetapi karena saat ini adalah malam hari, maka Matahari tidak akan tampak, posisinya digantikan oleh Bulan. Karna kemudian beranjali dan mencakupkan tangan seraya berdoa kepada pujaan hatinya itu:
          “Oh…Bhatara Surya. Jika kau berkenan pada bhaktiku selama ini, maka berikanlah aku kekuatan, bukakanlah pintu pertempuran dalam melawan Arjuna. aku sadar kau tidak akan terlihat sekarang, sebab Bulan sudah menduduki posisimu saat ini, tetapi kau akan tetap ada. Oh..Bhatara Surya, demikian juga aku. Tak satupun melihat aku sebagai seorang pemanah terbaik, aku hanya inginkan satu hal. Agar dunia tahu bahwa diantara panah-panah Arjuna, berdiri murid resi Parasurama ini
          Setelah puas menjura dan berdoa, ia tidur dalam buaian malam tanpa atap. Berbaring di atas tanah layakny seorang sanyasin yang sudah melepaskan ikatan dari dunia. Malam itu ia tidur sangat nyenyak, dan dalam tidurnya iapun bermimpi.
          Bhatara Surya hadir dalam mimpinya secara personal dengan tubuh bercahaya gemilang dan dengan tatapan wajah penuh dengan rasa belas kasihan. Radheya yang mengetahui bahwa pujaan hatinya sekarang berdiri di depannya, kemudian mulai menjura dan berkata:
          “Terimalah hormat hambamu ini”.
          “Karna… kau adalah pemuja-Ku. Maka Aku akan datang melindungimu anakku. Ingatlah pesanKu ini, besok Bhatara Indra akan hadir dalam wujud sebagai seorang sanyasin. Ia akan datang dengan cawan peminta-minta padamu, dan sebagai seorang raja, sudah kewajiban utamamu memberikan apapun yang ia minta”.
          “Maksud paduka apa? Hamba tidak mengerti..”.
          “Karna anakku, Bhatara Indra akan hadir untuk meminta kuvaca dan kundala milikmu yang sejak kecil sudah menempel di badanmu itu. Karena baju zirah itulah kau tak terkalahkan, dan karena anting-anting itulah kau tetap berjaya di medan laga. Jika itu terlepas darimu, maka pelindungmu juga akan hilang.”.
          “Tetapi paduka, hamba tidak dapat untuk menolak permintaan seorang suci seperti itu, dan hamba sudah berjanji pada diri hamba sendiri, bahwa jika seorang sanyasin datang dan memohon kepada hamba, maka akan hamba berikan”.
          “Tetapi ingatlah anakku. Sebagai gantinya, kau harus meminta senjata sakti pada Bhatara Indra. Dengan begitu kaau tetap perkasa di medan perang”.
          Setelah bersabda demikian, maka Bhatara Surya menghilang dan Radheya terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Sadar bahwa mimpinya itu adalah sebuah petunjuk, maka ia berusaha untuk memantapkan hatinya. Beranjak dari sana, ia sudah siap dengan peralatan doa pagi harinya.
          Dengan langkah mantap, ia menuju sungai dan mulai mempersembahkan air kehadapan Bhatara Surya. Ia berdoa sangat tulus dan tiba-tiba ada seseorang yang memecahkan doanya dengan kalimat parau:
          “Oh…raja…wahai raja… Wilayah apakah ini…?”
          Karna kemudian membuka matanya dan melihat sosok sanyasin tengah menengadahkan kepalanya dan membawa brahmadandi.  Kemudian Karna menjawab:
          “Ini adalah wilayahku, Angadesa. Salam hormatku padamu wahai pendeta agung. Sucikanlah diriku dengan telapak tanganmu yang bertuah itu.”.
          “Raja.. aku adalah pengembara, dan aku tahu bahwa kau adalah seorang yang dermawan. Aku kedinginan, dan berikanlah aku kuvaca serta anting-antingmu agar aku dapat melanjutkan perjalananku ini”.
          Tanpa basa-basi lagi sanyasin itu meminta Kuvaca dan Kundala dari Karna. Dengan segera Karna mengambil pisau yang terselip dipinggangnya untuk melepaskan baju zirah dan anting-anting yang secara alami menempel di badan Karna.
          Ia menoreh sedikit demi sedikit badannya hingga baju zirah itu terlepas dan mencabut anting-antingnya dengan suash payah. Badanya kini berlumuran darah, tetapi ia tampak gagah dengan memberikan itu semua, tak ubahnya seperti Vali yang mempersembahkan kepalanya untuk Tri Vikrama.
          Setelah dilepas semua, maka baju dan anting itupun diserahkan kepada sanyasin tersebut. Seketika setelah menerima itu, maka sanyasin itu berubah menjadi Bhatara Indra dengan cahaya badannya yang cemerlang.
          “Kau Aku berkati, Karna… jayalah..”.
          “Hamba sudah tahu bahwa diri-Mu adalah Bhatara Indra yang menyamar menjadi sanyasin. Terimalah itu Paduka, sebagai persembahan hamba pada-Mu”.
          “Mengapa kau mengetahuinya Karna..?”
          “Sebab, tanpa bertanya terlebih dulu siapa hamba, Engkau telah menyebut hamba sebagai raja. Berarti Engkau telah mengetahui siapa hamba dan sengaja datang ke mari untuk meminta baju itu”.
          “Kau sungguh luar biasa. Murid Ramabhargava adalah cakap dalam segala hal, Aku bangga padamu. Sekarang katakan padaKu apa yang kau pinta dari-KU”.
          “ Tuanku. Jika Engkau benar-benar berkenan padaku, maka berikanlah aku senjata sakti. Bahkan musuh sehebat apapun akan roboh dengan senjata itu..”.
          Setelah menyatakan permintaannya, Karna menjura, dan Bhatara Indra memberikan sebuah senjata sakti bernama konta. Tetapi Bhatara Indra bersabda:
          “Karna..senjata ini sangat sakti. Betapapun kekuatan lawanmu, mereka akan roboh dengan senjata ini. Tetapi senjata ini hanya sekali pakai, dan setelah kau gunakan, senjata ini akan langsung kembali pada-Ku lagi”.
          Setelah berkata demikian, senjata bersinar seperti api itu diterima oleh Karna dan Bhatara Indra menghilang. Radheya cukup puas dengan senjata yang dianugerahkan padanya itu, dan ia sangat percaya bahwa suatu ketika nanti Arjuna akan dapat dikalahkan dengan anak dan busur panahnya sendiri.
untuk lebih menghayati, memahami, bagaimana pesan kebijaksanaan yang terdapat di dalam Mahabharata, dan Mahabharata sebagai salah satu cara belajar Veda yang komperhensif, maka dapat di baca di dalam buku: Phala Sruti Itihasa Jenjang Belajar Veda. penerbit :PT Pustaka Bali Post.



mahabharata(Draupadai harana Parva:book3The Vana Parva)


DRAUPADI HARANA PARVA

          Setelah seluruhnya menyelesaikan tugas dengan baik, dan tirtha-yatra mereka usai, mereka kemudian kembali berkumpul menjadi satu. Kakak sulung Yudhisthira sudah menyelesaikan prayascittanya dengan sukses dan menjadi tenang setelah itu. Ia sekarang terlihat seperti Narada, sang pendeta perkasa. Bhimasena yang diberkati oleh Putra Anjani sekarang bertambah kuat bagaikan Bhatara Vayu sendiri, sedangkan Arjuna sudah mendapatkan banyak senjata sakti dari para Dewa. Mereka benar-benar penakluk benteng musuh yang ditakuti.
          Suatu pagi yang cerah, setelah menyelesaikan doa paginya, Dewi Draupadi kemudian pergi untuk mengambil air di sungai sebagai bahan pokok untuk kehidupan mereka. Ia mengumpulkan kayu bakar dan membawa gerabah untuk disi banyak air dan segera di bawa pulang. Pagi itu, tak seorangpun yang lewat dan tampak melakukan aktifitas di sungai sebagai mana biasanya. Tetapi Draupadi tidak menyadari hal itu, ia terlalu asyik menjalankan tugas hariannya.
          Air sungai itu kemudian diambilnya dengan segera dan gerabah itu sekarang telah penuh berisi air. Beranjak pulang, Draupadi juga tidak menemukan satu orang pun yang lewat di jalan hutan itu. Jalan itu memang sering dilalui oleh banyak orang sebab jalan itu termasuk jalan lebar yang lapang. Ada banyak kereta barang yang lewat setiap harinya, tetapi hari ini tak satupun dari mereka yang terlihat.
          Secara otomatis, maka Draupadi berjalan seorang diri sambil membawa pariuk yang berisi air untuk di masaknya di rumah. Perlahan-lahan terdengarlah suara pantulan kereta kuda dari belakang, tetapi Draupadi tidak mengindahkan hal tersebut, ia hanya berjalan maju tanpa menoleh sedikitpun.
          Kereta kuda itu berjalan perlahan setelah dekat dengan Draupadi, ternyata yang mengendarai kereta itu adalah raja Shindudesa bernama Maharaja Jayadratha. Ia adalah raja sekaligus ipar dari pangeran Duryodhana. Secara pasti, maka ia juga memiliki kedekatan dengan keluarga Pandava. Jayadratha kemudian menghentikan keretanya lalu turun  dan  menyapa Draupadi yang berjalan sendiri:
          “Draupadi…. Mengapa dirimu seorang diri berjalan di tepian sungai ini…?”
          “Oh..Maharaja Shindu, aku kira engkau siapa. Aku sudah terbiasa melakukan tugasku seorang diri, maharaja hendak kemana mengendarai kereta..?”
          “Aku hendak pulang, sampai kemarin, aku masih menginap di Hastinapura..”
          “Oh..bagaimana keadaan di istana..?”
          “Biasa saja dewi, tidak ada yang berubah semenjak kepergian kalian”.
          “Bagaimana kabar kakek Bhisma dan mahaguru Krpa..?”
          “Mereka sehat-sehat saja dan tengah menunggu kalian untuk pulang kembali…”.
          “Aku tak akan kembali ke istana, dimana aku ditelanjangi dan dipermalukan demikian…”.
          Jayadratha diam sejenak, ia berusaha untuk merayu Draupadi yang hanya seorang diri di sana. Kemudian dengan sedikit mendekat, maharaja yang mulai dibutakan oleh nafsu itu berkata:
          “Dewi.., Jika kau tak berkeberatan, maka ikutlah denganku ke Shindu. Kau adalah putrid Maharaja Pancala, hutan bukanlah tempatmu untuk tinggal. Jadi mari, naiklah bersamaku di kereta ini dan nikmatilah hidup bahagia di sana..”
          Mata Draupadi membelalak besar dan memerah. Ia sangat terkejut melihat kelancangan Jayadratha berkata demikian. Benarlah, jika kekayaan, dan kuasa meninggalkan seseorang, maka hanya hinaan sajalah yang menghampirinya. Draupadi kemudian berkata dengan nada tegas:
          “Oh..raja, Lupakah dirimu tentang siapa aku ini? Atau kau sudah mulai kehilangan akal sehatmu sehingga kau tidak perduli terhadap aturan dan tata karma yang ada..? Jika aku dengar kata-kata kotormu itu kembali, maka aku tidak akan sungkan untuk melemparkan kendi ini kewajahmu maharaja..”.
          “Oh..manis sekali seorang dewi yang tengah murka dalam kegalauan hatinya. Jangan lupa Draupadi, kau sendiri di tengah hutan ini, aku dapat saja membawamu lari dengan paksa dank au tidak akan berdaya…”.
          “Coba saja jika kau bisa, maharaja.. Tetapi aku yakinkan padamu, jika kau berani melakukan tindakan bodoh itu, maka tangan dan kakimu akan terkulai lemah tak berdaya kembali..”.
          “Ha..ha..ha..ha….ha…ha…ha…ah…haa..oh dewi..dewi..kau jangan membuat aku tertawa. Siapa yang akan datang menolongmu ke sini? Pandava? Mereka berjarak beberapa kilo jauhnya, sedangkan aku menaiki kereta, bagaimanapun kecepatan lari mereka, tak akan dapat mengejar aku..ha..ha..ha….”.
          “Dasar binatang….”.
          Setelah mengatakan hal itu pada Jayadratha, maka Draupadi pergi meninggalkan Jayadratha. Ini membuat raja yang bernafsu itu semakin ingin menculik Draupadi. Orang gila itu kemudian memegang tangan Draupadi dan dengan segera melumpuhkannya lalu menggendongnya dengan sangat enteng. Draupadi meronta-ronta, ia menangis sejadi-jadinya seperti ketika Sita diculik oleh Ravana.
          Periuk yang di bawanya terjatuh dan pecah berantakan, kemudian raja Shindu itu melarikan Draupadi dengan kereta kudanya. Yudhisthira mendapatkan firasat yang buruk, seketika ia memanggil Bhima dan Arjuna untuk mencari Draupadi. Alamat buruk itupun terbukti, ketika Bhima menemukan periuk milik Draupadi yang pecah berantakan. Pastilah terjadi sesuatu padanya, dan Arjuna menemukan jejak bekas kereta kuda.
          Mereka kemudian memutuskan untuk mengejar ke mana arah kereta kuda tersebut. Dengan kekuatan berlari laksana kera yang marah, Bhima melesat dengan kencangnya. Sedangkan Arjuna menggunakan tubuh seringan kapas dan berlari layaknya Bhatara Pavana yang melesat kencang.
          Dengan segera mereka mendapati Draupadi menjerit di atas kereta Jayadratha. Murkalah Bhima melihat hal itu, kemudian ia melemparkan gadanya ke arah kereta Jayadratha, dan hasilnya kereta itu hancur berantakan. Kuda-kudanya tewas di tembak anak panah Arjuna. pasukan Jayadratha yang menyerang semuanya diikat oleh anak-anak panah naga oleh Arjuna dan mereka lumpuh seketika.
          Kini tinggallah Jayadratha yang ketakutan sendiri melihat prajuritnya lumpuh total. Ia berlari dengan sebisanya, tetapi apalah arti lari Jayadratha dari kejaran Bhima. Satu tinju telak mendarat di pelipisnya dan membuat raja yang penuh nafsu itu roboh terjerebab ke tanah.
          Belum sempat bangkit untuk bersiap, Bhima kembali menginjak kepala Jayadratha dengan keras dan menendang dadanya yang bidang. Ia mengangkat tubuh Jayadratha dan membantingnya ke arah tanaman berduri. ia mangamuk bagaikan gajah gila yang lapar, Jayadratha terkapar bersimbah darah, tetapi human Bhima belum selesai, ia mengambil gadanya dan menghantamkannya ke arah kepala Jayadratha. Raja itu terhuyung-huyung tak seimbang dan limbung.
          Bhima kembali menghantamkan gadanya tepat bersarang di leher sang raja. Kemudian satu pukulan lagi di dadanya dan membuat tiga tulang rusuk Jayadratha patah. Satu pukulan gada lagi ke arah bahu, dan membuat bahu kekar itu rontok bagaikan dahan kering diterpa topan. Jayadratha sudah tak berdaya, ia terkulai lemas dan rebah di tanah bersimbah darah.
          Arjuna kemudian melerai perkelahian yang mulai kelihatan tak seimbang itu.
          “kakak..sudah kakak, cukup sampai di situ..kakak…aku mohon…Jika kau memukulnya lagi, maka Jayadratha pasti akan mati.
          Demikian Arjuna menghentikan kakaknya untuk bertindak lebih jauh lagi. Bhima dapat mengendalikan dirinya, sehingga nyawa raja Shindu itu selamat, dan ia kemudian diikat dengan tali rotan kemudian di bawa menuju kepada Dharmaraja. Saat itu, Jayadratha sudah tidak berdaya lagi, ia terkulai dan tanpa ia sadari sekejap saja, ada suara lembut yang membangunkannya. Ternyata itu adalah suara Yudhisthira:
          “Raja Shindu, bangunlah…”.
          Ketika ia membuka matanya, di depannya berdiri Dharmawangsa dengan tatapan tajam namun dengan nada suara yang tanpa amarah.
          “Alangkah nista dan kotornya perbuatanmu itu sebagai seorang raja. Apakah ini cerminan sikap pimpinan tertinggi di Shindudesa? Melarikan seorang wanita yang sudah memiliki suami? Jika kau adalah seorang ksatria, maka tunjukkan sikapmu terhadap aturan dan peradaban luhur yang sudah digariskan oleh banyak orang bijak”.
          Jayadratha tidak dapat berkata apapun, ia tertunduk dan diam seribu bahasa mendengarkan petuah dari lawan bicaranya. Bhima kemudian menimpali:
          “Kakak, si dungu ini sudah aku ampuni karena Arjuna melarang aku untuk membunuhnya. Tetapi perbuatannya pada Pancali, tidak dapat aku terima. Jika kau mengijinkan aku, maka aku akan memenggal kepalanya dan membakar mayatnya kemudian aku buang ke sungai Gangga…”
          “Tidak Bhima, jangan kau nodai tanganmu dengan darah raja Shindu ini. Hukuman darimu sudah cukup untuknya. Sekarang kita tanyakan saja pada Pancali, apakah yang harus kita lakukan pada bajingan ini…”.
          Pandava kemudian menoleh kepada Putri Pancali dengan tatapan siap untuk menunggu permintaan. Draupadi menarik nafas panjang, ia sendiri tak mengerti apa yang harus dilakukan. Satu sisi, ia merasa sangat kasihan melihat keadaan raja Jayadratha yang sekarat demikian, tetapi di sisi lain, kehormatannya, harga dirinya sebagai wanita yang telah bersuami, tercabik-cabik. Maka dengan segala kepercayaan diri ia berkata:
          “Aku tak dapat menjatuhkan hukuman pada si dungu ini. anggap saja dia adalah manusia yang tidak tahu peradaban yang baik dan benar, maka kita akan mengajarinya sekarang. Dia adalah seorang raja besar, maka tak pantas bagiku untuk menghukum dia, hanya kakak Yudhisthira saja yang akan menjatuhkan hukuman…”.
          Maharaja Yudhisthira memandang putrid Pancali dengan senyuman manis dan ia berusaha meyakinkan bahwa setiap manusia dapat saja melakukan kesalahan karena tertutupnya buddhi. Hukuman mati, dirasa sangat berat dan tidak sepadan dengan tata cara mendidik manusia yang tidak memiliki rasa malu untuk menjadi manusia yang punya rasa malu.
          “Bhima, Arjuna, dan juga Pancali. Dengarkan kataku sekarang. Kita maafkan saja raja Jayadratha ini. anggap saja ia adalah manusia buangan yang tak tahu tata karma, atau orang gila yang tidak tahu aturan. Lalu bagaimana mungkin kita menjatuhi hukuman pada orang gila…?”
          Demikian kata Yudhisthira, tetapi Dhananjaya menyanggah dengan tegas:
          “Untuk hal yang satu ini aku tidak sependapat denganmu kakak. Ia telah menodai kehormatan Pancali, bagaimana mungkin kakak membiarkannya pergi begitu saja.? Ia adalah ksatria, jadi kita hukum dia layaknya seorang ksatria yang telah mendapatkan penghinaan. Kita cukur rambutnya, dan baru kita biarkan dia pergi…”.
          Dalam peradaban kuno, seorang ksatria yang kalah dalam perang dan tunduk akan kekuasaan raja yang mengalahkannya, maka ia menyerahkan mahkotanya, atau mencukur rambutnya tanda ia sebagai seorang budak. Inilah yang dilakukan oleh Bhima sekarang kepada Jayadratha. Rambut raja Shindu itu kemudian dicukur habis dan ia seperti orang gila. Setelah itu barulah ia dilepaskan oleh Pandava.
          Raja Jayadratha sangat terhina dengan perlakuan itu, maka ia pun pergi ke hutan dan memutuskan dirinya untuk bertapa. Ia bertapa dengan niat menerima berkah Mahadewa agar suatu ketika nanti, ia dapat mengalahkan Pandava di medan laga untuk membalas kekalahannya.
          Dalam tapanya, maharaja Jayadratha memuja Mahadewa dengan sungguh hati dan iapun duduk dalam posisi yang tegak. Mengatur nafasnya dalam diam, dan hanya mengenakan pakaian kulit kayu. Setiap malam tiba, ia sudahi tapanya dan menatap langit dengan geramnya:
          “Arjunaaaaaaaa…………Bhimaaaa……….. Jika suatu ketika nanti kita akan bertemu kembali, maka aku berjanji pada diriku sendiri akan mengalahkan kalian dengan tanganku ini..haaaaaaaaa..heeehaaaahhhhhh…….Oh…Mahadewa, lihatlah tapa yang aku lakukan untuk menyenangkan hatimu. Berikan aku kekuatan agar Bhima dan Arjuna tidak berkutik di depanku…Oh…Mahadewa………”.
          Jayadratha berteriak demikian setiap malam menahan perih dari luka penghinaan yang ia terima. Inilah ceriman manusia dungu, sebab hasil yang ia terima sebenarnya adalah dari tindakan yang ia lakukan sendiri. Karena itu dalam peradaban Veda, seseorang yang melihat ipar perempuan, kakak wanita, wanita yang bukan istrinya, dan wanita asing yang ia temui, harus dipandang sebagai seorang ibu.

mahabharata(book3) bagian ke tiga


MAHARESI DVAIPAYANA VYASA

          Untuk sementara waktu, hati pangeran Duryodhana dapat berbahagia, sebab dalam wilayah Hastinapura yang serba berkemakmuran demikian, ia hidup laksana Bhatara Indra yang mengatur semuanya. Namun demikian, hati Maharaja Dhrstarastra gundah gulana, tampaknya kemenangan anaknya di meja dadu belum dapat membahagiakan hatinya secara utuh. Keinginan terbesarnya adalah menjadikan anaknya satu-satunya pewaris tahta, dan apapun itu permintaan anaknya ia turuti. Kecintaannya terhadap anak sudah membuat ia buta dalam segala hal, dan semenjak saat itu, ia tak dapat menikmati hidup dengan tenang.
          Suatu ketika, Maharesi Dvaipayana Vyasa hadir di Hastinapura, dan Beliau di sambut langsung oleh Maharaja dengan penghormatan yang layak bagi Brahmana. Maharaja mempersilahkan sang resi duduk, kemudian Maharaja melakukan puja dan mencuci kaki Bhagavan Dvaipayana Vyasa, lalu ia bersimpuh, dengan tangan beranjali ia menjura dan berkata:
          “Oh…pendeta bijaksana, setelah berkeliling seluruh wilayah, Engkau sudah menemukan banyak berbagai macam kebijaksanaan. Engkau adalah samudra ilmu pengetahuan, jikalau penghormatanku ini tidak berkenan di hatimu, maka maafkanlah aku”.
          “Dengarlah olehmu wahai Maharaja…leluhurmu adalah manusia perkasa dan agung, mereka termasyur karena memegang teguh prinsip kebenaran. Sekarang tampuk pemerintahan ada padamu, dan sebagai raja yang baik, tidak sepantasnya engkau berlaku tidak adil dalam segala hal..”
          Kalimat pertama Maharesi tampaknya sudah dimengerti oleh Maharaja, seketika roman mukanya berubah drastis, dan ia tertunduk lesu. Sadar bahwa tindakannya keliru, maka ia tak mampu lagi berbuat apapun juga, ia seperti seorang yang tengah putus asa, bimbang dan tak tentu arah. Kemudian Maharesi melanjutkan pembicaraan:
          “Dengarkan oh raja…dalam mempin sebuah negara, kecintaan terhadap sanak keluarga hendaknya ditempatkan pad abagian akhir tindakanmu. Ini berarti apapun hal yang menyangkut dinastimu, negaramu, dan juga kepentingan rakyatmu harus kau dahulukan. Membuang Pandava ke tengah hutan, bukan sebuah tindakan yang baik, dan itu merupakan satu contoh buruk bagi rakyatmu…Apakah kau melakukan itu atas dasar cintamu pada putramu sendiri..?”
          “Wahai guru suci, kau dapat saja berkata demikian, sebab kau tak memiliki putra. Aku sebagai seorang ayah, tentu aku berharap yang terbaik bagi putraku.”
          “Oh raja, aku berbicara bukan kau sebagai seorang ayah, tetapi pandanglah ia sebagai warga negara, sebab putramu juga warga negara. Jika ia bersalah maka hukumlah ia sebagaimana warga negara yang lain, jangan terlalu memanjakannya dan membenarkan setiap tindakannya yang sudah nyata-nyata keliru..”
          “Wahai guru mulia. Apa yang kau katakana benar, tetapi sangat sulit bagiku untuk memandang Duryodhana sebagai warga negara, sebab bagaimanapun ia adalah putraku..jadi maafkan aku guru…”
          Sadar apa yang dinyatakan suaminya adalah keliru, maka Gandhari bangkit dan menjura kehadapan Maharesi dan meminta maaf:
          “Oh pendeta agung…Janganlah engkau duka dengan apapun yang suamiku katakana. Ia tengah bingung dan cemas akan nasib putranya…Suamiku, hendaknya kau mematuhi apapun yang menjadi nasehat guru suci, dengan berkata demikian, maka sama saja dengan membangkak perintah guru… jangan menghancurkan jembatan tali kasih yang kita bangun selama ini dengan putra Pandu”.
          Kalimat istrinya tampaknya tidak terdengar di telingan maharaja yang tengah sibuk berfikir bagaimana putranya dapat menjadi seorang pewaris tahta kelak. Bahkan kehadiran Maharesi tidak menjadikan dirinya sadar dengan selama ini yang terjadi padanya. Seorang raja yang berada dalam dilemma adalah sebuah detik kehancuran bagi negaranya, seorang raja yang terlalu kasih pada sanak keluarganya, tidak terlalu layak untuk memimpin negara, sebab raja yang demikian  suatu ketika nanti akan mendahulukan kepentingan keluarganya dari pada rakyatnya, dan itu adalah buruk.
          Sadar bahwa nasehatnya tak akan dapat merubah pola pikir Maharaja, Bhagavan pergi meninggalkan Maharaja di bali rung istana. Sementara itu, pangeran Duryodhana, Sakuni, Duhsasana, Radheya, duduk bersama di tempat yang terpisah dari Maharaja. Namun pengawal Duryodhana sudah melaporkan bahwa Maharesi Dvaipayana Vyasa mendatangi Maharaja. Mendengar kalimat berita yang demikian, maka pangeran Duryodhana naik pitam:
          “Oh…Pamanku…kau dengar tadi..? seorang pendeta datang dan menasehati ayahku dengan segala macam petuah yang basi. Paman, ini bukan berita yang baik, pikiran ayahanda dapat diracuni, dan mungkin saja ada sebuah perintah untuk menjemput Pandava kembali ke Hastinapura…”
          Sakuni kemudian menimpali pangeran, ia bangkit dan menepuk pundak keponakannya yang tersayang itu:
          “Oh..keponakanku..jangan cemaskan Maharaja, telinganya sudah kebal dengan segala nasehat, dan lagi pula, ia terlalu cinta padamu, tak mungkin bagi maharaja untuk memanggil kembali putra-putra Pandu. Yang seharusnya menjadi beban pikiran kita sekarang adalah Mahaguru Drona dan juga Mahaguru Krpa”
          Raja Anga Karna kemudian berkata pada Sakuni: “Paman… apakah yang kau katakan, bukankah yang paling menghawatirkan adalah Bhisma Putra Gangga? Aku memiliki pikiran yang buruk dengan Bhisma”
          “ Tak usah kau cemaskan Bhisma, oh Raja Anga. Ia adalah singa yang terikat akan mahkota, apapun perintah raja adalah sebuah kewajiban yang harus diikuti olehnya, jadi apapun bentuk serangan nasehat yang datang kepada Maharaja, yang paling menghawatirkan adalah Drona Acarya dan juga Mahaguru Krpa.”
          Sakuni berusaha meyakinkan pangeran dan raja Anga, sahabatnya itu. Ia bagaikan ular berbisa dan memberikan racun pada setiap susu. Benarlah apa yang dinyatakan oleh para bijak, bahwa segelas susu adalah baik, tetapi jika susu itu telah disentuh dengan ular, maka susu itu beracun. Seseorang pada dasarnya adalah mulia, tetapi karena pergaulan yang buruk, maka ia menjadi manusia durbudi.
          “Keponakanku, dari pada kalian harus memikirkan guru tua itu, maka pikirkan bagaimana sebaiknya menembaki Pandava di hutan. Oh..raja Anga, jika kau menjadi pandava, maka apa yang kau lakukan…?”
          “Paman… jika aku menjadi mereka, maka aku akan mengumpulkan senjata saktiku, dan menggempur Hastinapura dengan kekuatanku..”
          “Oh.. baru sekarang aku mendengarkan kalimat bijaksanamu itu, tetapi dengarkanlah olehmu Raja Anga, kita serang mereka dengan perasaan yang dihina. Kita injak-injak harga diri mereka, dan dengan demikian, mereka akan kehilangan kekuatan mereka. Sebab bagaimanapun kuatnya seseorang, jika ia kehilangan harga diri, maka ia akan menjadi orang yang lemah…Oh keponakanku bidiklah panah penghinaanmu itu dan arahkan pada harga diri mereka. Pergilah ke hutan dan buatlah tenda di sana, kemudian carilah kesempatan untuk menghina kemelaratan mereka di sana.ha.haa.haa”
          Setelah berkata demikian, maka mereka bersiap-sipa mengumpulkan segenap perbekalan untuk di bawa ke hutan. Dengan harapan, bahwa di sana mereka dapat menghina saudara mereka yang hidup dari mengais makanan di hutan. Berita tentang rencana buruk itu didengar oleh Mahaguru Drona, kemudian ia mendatangi Bhisma dan menyampaikan berita buruk itu.
          “Oh..Putra Gangga, dengarkanlah oleh mu. Pangeran hendak pergi ke hutan, mereka meminta ijin Maharaja dengan alasan berburu ke hutan. Aku paham betul siasat licik yang dilakukan raja Gandhara pada pangeran, aku tidak menghawatirkan Yudhisthira, ataupun Arjuna yang tak mau menuruti nasehat kakak tertuanya. Yang aku khawatirkan adalah Bhima, sebab ia seperti angin, jika ia sudah mulai bergerak, maka tak satupun yang dapat menghalanginya, tak satupun tak satupun…”
          “Apa yang kau katakana benar Mahaguru..jika Bhima tak tahan akan penghinaan yang ia saksikan nanti, mungkin saja ia akan mengamuk dan menghancurkan pangeran di sana, dan ini bukan sesuatu yang baik bagi kita semua. Oh mahaguru, jangankan aku, bahkan Guru Vyasa pun sudah menasehati Maharaja, tetapi Maharaja tetap demikian. Kita tak dapat berbuat apapun juga, kita hanya dapat berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja”.
         

Catatan : Maharesi Krsna Dvaipayana Vyasa adalah pengkodifikasi Veda yang agung. Beliau adalah putra Bhagavan Parasara dan Beliaulah yang menulis Mahabharata, Purana-purana, Vedanta Sutra (Brahma Sutra), dan merupakan saudara Bhisma Putra Gangga. Dengan demikian Beliau adalah leluhur pandava dan kaurava.